About US

Situs Ini adalah tempat komunikasi dan perkumpulan alumni Pondok Pesantren Manahilil Ulum Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI) Tingkat I Sulawesi Selatan Samata Kabupaten Gowa - Indonesia

Mutiara Hadis

Abu Hurairah Abdur Rahman bin Sahr ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Apa yang kularang untuk kalian maka tinggalkanlah dan apa yang kuperintahkan kepada kalian, maka laksanakanlah sesuai dengan kemampuan kalian sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan terhadap para Nabi mereka. HR Bukhori Muslim)

01 December 2009


Adab Tilawah (Membaca) Al-Quran

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka baginya sepuluh kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dilipat gandakan hingga sepuluh kali. saya tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf dan mim juga satu huruf," (HR. Tirmidzi). Itu baru satu kata, lalu bagaimana kalau kita membaca satu juz atau lebih setiap malamnya?

Tentu sudah tak terhitung berapa banyak pahala yang mengalir ke catatan amal kita tanpa kita sadari. Belum lagi kalau saat itu bertepatan dengan malam lailatul qadar. Berarti apa yang kita lakukan pada saat itu sama dengan pahala yang kita peroleh ketika membaca Al-Qur'an selama 83 tahun lebih tanpa henti. Subhanallah. Dan, untuk menyambut datangnya bulan ini, seyogyanya kita memahami adab tilawah, adab membaca Al-Qur'an. Sehingga apa yang kita rencanakan sejak jauh-jauh hari itu bisa tercapai dengan baik.

1 . Membaca dalam keadaan suci dari hadats, menghadap qiblat dan duduk dengan baik

Al-Qur'an bukanlah seperti buku biasa, atau seperti surat kabar harian yang boleh dibaca di mana saja serta dalam keadaan apa pun. Tidak. Al-Qur'an jelas sangat berbeda dengan semua itu. Al-Qur'an merupakan kitab suci yang menjadi sumber segala sumber hukum. Kitab suci yang terbebas dari perubahan hingga akhir zaman. Sehingga sudah sangat wajar bila kita harus memperlakukannya dengan khusus pula. Didahului dengan berwudlu, sebagai wujud pensucian diri. Lalu dilanjutkan dengan mengambil dan membawanya dengan tangan kanan, sebagai lam bang kebaikan, selanjutnya duduk dengan tenang dan siap untuk membacanya. Demikianlah yang harus dilakukan sebelum membacanya, sehingga Allah berfirman: "Tidak' menyentuhnya kecuali hambahamba yang disucikan". (Al-Waqiah: 79).

2. Membaca dengan tartil (perlahan-lahan)

Seringkali kita mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat dan terburu-buru. Ia seperti orang yang sedang dikejar hantu. Atau bisa jadi kita juga terpancing untuk membacanya dengan cepat, agar lebih cepat selesai. Padahal membaca dengan cara seperti i

READ MORE - Adab Tilawah (Membaca) Al-Quran

Antara Menangis dan Tertawa

Pada suatu ketika di Hari Raya Idul Fitri, sufi Ibn al-Wardi bertemu dengan sekelompok orang yang sedang tertawa terbahak-bahak. Melihat pemandangan itu, Ibn al-Wardi menggerutu sendiri. Katanya, ''Kalau mereka memperoleh pengampunan, apakah dengan cara itu mereka bersyukur kepada Allah, dan kalau mereka tidak memperoleh pengampunan, apakah mereka tidak takut azab dan siksa Allah?''

Kritik Ibn al-Wardi ini memperlihatkan sikap kebanyakan kaum sufi. Pada umumnya mereka tidak suka bersenang-senang dan tertawa ria. Mereka lebih suka menangis dan tepekur mengingat Allah. Bagi kaum sufi, tertawa ria merupakan perbuatan tercela yang harus dijauhi, karena perbuatan tersebut dianggap dapat menimbulkan ghaflah, yaitu lalai dari mengingat Allah.

Akibat buruk yang lain, tertawa ria dapat membuat hati menjadi mati, yang membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah (Al-Zumar: 22), tidak dapat menerima petunjuk (Al-Baqarah: 7), dan mudah disesatkan oleh setan (Hajj: 53). Pada waktu Perang Tabuk, orang-orang munafik berpaling dan menolak berperang bersama Nabi. Mereka justru bersenang-senang dan tertawa ria di belakang beliau. Tentu saja mereka dikecam oleh Allah dan diancam hukuman berat. Firman-Nya, ''Katakanlah: Api neraka itu lebih sangat panasnya jikalau mereka mengetahui.

Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.'' (Al-Taubah: 81-82). Ayat di atas, menurut pakar tafsir al-Razi, datang dalam bentuk perintah (al-amr), tetapi mengandung makna berita (al-khabar). Dalam perspektif ini, ayat tersebut bermakna bahwa kegembiraan dan suka cita orang-orang munafik itu sesungguhnya sebentar, tidak lama, lantaran kenikmatan dunia tidak kekal alias terbatas.

Sedangkan duka dan penderitaan mereka di akhirat justru berlangsung lama dan terus-menerus, lantaran azab dan siksa Tuhan di akhirat kekal abadi alias selama-lamanya. Ini berarti, setiap orang dihadapkan pada dua pilihan yang bersifat antagonistik, yaitu tertawa ria di dunia, tetapi menangis di akhirat, atau menangis di dunia, tetapi riang gembira dan tersenyum di akhirat. Dalam hadis sahih, Nabi pernah berpesan agar kaum Muslim lebih banyak menangis daripada tertawa ria. Katanya, ''Jikalau kalian mengetahui apa yang kuketahui, pastilah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.'' (HR Bukhari-Muslim). Di akhirat, berbeda dengan di dunia, manusia akan terbagi menjadi dua golongan saja.

Pertama, golongan yang bersuka cita dan tertawa ria. Mereka itulah para penghuni surga. Kedua, golongan orang yang menderita dan bermuram durja. Mereka itulah para penghuni neraka. Allah berfirman: ''Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak pula muka pada hari itu tertutup debu dan ditutup pula oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.'' ('Abasa: 38-42). Semoga kita termasuk golongan orang yang dapat tertawa ria di akhirat kelak. Amin. (A Ilyas Ismail)

sumber : Republika

READ MORE - Antara Menangis dan Tertawa

ALLAH MEMPERBOLEHKAN UMAT MUHAMMAD MELAKUKAN SUJUD DI HARI QIYAMAT)


Artinya :

Dari Abu Rurdah dari ayahnya, ia berkata : Rasulullah saw. bersabda: "Apabila Allah mengumpulkan makhluk pada hari Qiyamat, maka Allah mengizinkan umat Muhammad untuk bersujud, lalu mereka sujud lama, Kemudian diucapkan : "Angkatlah kepalamu, karena Kami telah menjadikan hari-harimu itu sehagai tebusanmu dari neraka (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

READ MORE - ALLAH MEMPERBOLEHKAN UMAT MUHAMMAD MELAKUKAN SUJUD DI HARI QIYAMAT)

Al-'Adl (The Just, The Equitable)

AL-‘ADL
The Just, The Equitable

“O You who believe! Show integrity for the sake of Allah, bearing witness with justice. Do not let hatred for a people incite you into not being just. Be just. That is closer to piety. Have fear [and awareness] of Allah. Allah is aware of what you do.” (Surat al-Ma'ida, 5:8)

Allah is the most just judge. As His order encompasses the universe, He will show His justice to His servants both in this world and beyond. All the acts of Allah, Who is All-Seeing, All-Knowing, and All-Aware, are for a divine purpose and are just.

Allah will judge all of each person's deeds according to His justice. Allah informs us that those who engage in violence will be punished and that even a single good word will be rewarded. He will manifest His infinite justice in the Hereafter.

The difficulties that unbelievers make for Prophets and believers, as well as their slanderous accusations and sins, will not remain unanswered. All of these difficulties, which raise believers' ranks in Paradise, lead unbelievers to the lowest level of the Fire. On the Day of Judgment, Allah will set up the Just Balance, and no soul will be wronged in any way. Allah will call them to account by ending the time that He has granted them. Given that Allah, the All-Knowing, keeps His promise, all people will see the consequences of their wrong actions in the Hereafter. Thus, unbelievers will be punished severely, while those who remained true to Allah will be rewarded most bountifully. In one verse, Allah states the following:

“Those who pledge their allegiance to you [the Prophet] pledge allegiance to Allah. Allah's hand is over their hands. He who breaks his pledge only breaks it against himself. But as for him who fulfils the contract he has made with Allah, We will pay him an immense reward.” (Surat al-Fath, 48:10)

There is an important point to consider here: While pondering over His justice, do not compare it with the human concept of justice, for a faithless person, while passing judgment, may well comply with his whims and desires, remain under the influence of his feelings, or forget what has been done. Most importantly, one never knows what is in the other party's mind. But Allah, Who never errs or forgets, has assigned angels for every person in order to observe and record each of their acts and thoughts. In brief, Allah holds each person's soul in His hand. The Qur'an also reveals that our Lord, Who gives the best judgment, is infinitely just:

“On the Day We summon every people with their records, those who are given their Book in their right hand will read their Book and will not be wronged by even the smallest speck.” (Surat al-Isra', 17:71)

In the Hereafter, Allah will pay back all of the wrongdoing and plots hatched against believers. In this life, He may grant the unbelievers many blessings (e.g., wealth and possessions), yet these will only lead them to more evil. In the Qur'an, Allah states that believers must not be attracted to such blessings, for when compared with what awaits them in the Hereafter, the benefits of this short life are insignificant, especially when the infinite punishment of Hell awaits unbelievers.

In the Hereafter, each person's real abode, every soul will find itself confronted with all of its good deeds. Allah will manifest His justice in Hell and Paradise for all eternity. Ultimately, Allah will separate those who believe in Him from those who do not.

“Say: 'Our Lord will bring us all together and then will judge between us with the truth. He is the Just Decider, the All-Knowing.'” (Surah Saba, 34:26)

Allah commands believers to be just as follows:

“Allah does not forbid you from being good to those who have not fought you in the religion or driven you from your homes, or from being just toward them. Allah loves those who are just.” (Surat al-Mumtahana, 60:8)

“Allah commands you to return to their owners the things you hold on trust and, when you judge between people, to judge with justice. How excellent is what Allah exhorts you to do! Allah is All-Hearing, All-Seeing.” (Surat an-Nisa', 4:58)

“They are people who listen to lies and consume ill-gotten gains. If they come to you, you can either judge between them or turn away from them. If you turn away from them, they cannot harm you in any way. But if you do judge, judge between them justly. Allah loves the just.” (Surat al-Ma'ida, 5:42)

By: Harun Yahya
READ MORE - Al-'Adl (The Just, The Equitable)

Kisah Qarun

Qarun adalah kaum Nabi Musa, berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir). Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada Fir'aun dan Haman. Allah telah mengaruniai Qarun harta yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi lemari simpanan. Perbendaharaan harta dan lemari-lemari ini sangat berat untuk diangkat karena beratnya isi kekayaan Qarun. Walaupun diangkat oleh beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun, mereka masih kewalahan.

Qarun mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong. Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan lemah di kalangan Bani Israil.Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani Israil terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang yang beriman kepada Allah dan lebih mengutmakan apa yang ada di sisi-Nya. Karena itu mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun dan tidak berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan, kesesatan dan kerusakannya serta berharap agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang lain.Adapun kelompok kedua adalah yang terpukau dan tertipu oleh harta Qarun karena mereka telah kehilangan tolok ukur nilai, landasan dan fondasi yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan hartanya. Mereka menganggap bahwa kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan kecintaan Allah kepadanya. Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu.

Qarun mabuk dan terlena oleh melimpahnya darta dan kekayaan. Semua itu membuatnya buta dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang mukmin. Ketika mereka meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas sedala nikmat harta kekayaan dan memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat,kabaikan dan hal yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya mengatakan "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku"

Suatu hari, keluarlah ia kepada kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan congkaknya. Maka hancurlah hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka seraya berkata, "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar."Akan tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu menasihati orang-orang yang tertipu seraya berkata, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh…."

Berlakulah sunnatullah atasnya dan murka Allah menimpanya. Hartanya menyebabkan Allah murka, menyebabkan dia hancur, dan datangnya siksa Allah. Maka Allah membenamkan harta dan rumahnya kedalam bumi, kemudian terbelah dan mengangalah bumi, maka tenggelamlah ia beserta harta yang dimilikinya dengan disaksikan oleh orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun yang dapat menolong dan menahannya dari bencana itu, tidak bermanfaat harta kekayaan dan perbendaharannya.

Tatkala Bani Israil melihat bencana yang menimpa Qarun dan hartanya, bertambahlah keimanan orang-orang yang beriman dan sabar. Adapaun mereka yang telah tertipu dan pernah berangan-angan seperti Qarun, akhirnya mengetahui hakikat yang sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka memuji Allah karena tidak mengalami nasib seperti Qarun. Mereka berkata, "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)."

PENYEBUTAN QARUN DALAM QURAN

Nama Qarun diulang sebanyak empat kali dalam Al-Quran, dua kali dalam surah al-Qashash, satu kali dalam surah al-`Ankabut, dan satu kali dalam surah al-Mu'min.Penyebutan dalam surah al-`Ankabut pada pembahasan singkat tentang pendustaan oleh tiga orang oknum thagut, yaitu Qarun,Fir'aun, dan Haman, lalu Allah menghancurkan mereka.

"Dan (juga) Qarun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (al-`Ankabut: 39-40)

Penyebutan dalam surah al-Mu'min (Ghafir) pada kisah pengutusan Musa a.s. kepada tiga orang thagut yang mendustakannya."Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman, dan Qarun, maka mereka berkata, `(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.'" (al-Mu'min:23-24)
READ MORE - Kisah Qarun

04 November 2009


Pengumuman Reuni Akbar

Diundang kepada semua Alumni Guppi agar menghadiri Reuni Akbar Alumni. hari Ahad 22 November 2009 di Kompleks Ponpes MMU (ma'had Manahilil Ulum) GUPPI (Gabungan Usaha Pebaikan Pendidikan Islam) Tingkat I Sulsel Samata Kab. Gowa.

Download Proposal Reuni Akbar
TTD

Panitia
READ MORE - Pengumuman Reuni Akbar

Reuni Akbar; Maksud & Tujuan Serta Tema

A. MAKSUD & TUJUAN

1. Kegiatan ini dimaksudkan agar para alumni saling mengenal satu sama lain. Dari angkatan pertama sampai sekarang. Dengan hal itulah diharapkan mampu tercipta rasa solidaritas untuk membangun.

2. Agar tetap terjaga hubungan emosional, sehingga terwujud rasa saling menyangi.

3. Dengan adanya lembaga Ikatan Alumni, diharapkan mampu menggagas visi baru untuk membantu pesantren membangun masyarakat yang bermartabat.

B. TEMA KEGIATAN

Kegiatan ini kami beri tema ”Mempererat Ukhuwah; Upaya Membangun GUPPI yang Lebih Maju”.

READ MORE - Reuni Akbar; Maksud & Tujuan Serta Tema